Layang-layang Kodokan dan Kebetan


Kembali aku terkenang masa kecil, tepatnya masa SD sampai SMP. Aku itu sangat suka bermain layang-layang. Salah satu sebab aku menjadi hitam manis (kata orang sih ) karena dulu pas kecil sering berjemur di terik matahari musim kemarau demi bermain layang-layang.

Dari bermacam jenis layang-layang yang aku kenal, aku dulu hanya memiliki dua jenis yang salah satunya hanya ada di daerahku yaitu layang-layang kebetan. Kalau layang-layang kodokan, itu sih banyak di tempat lain, cuma namanya saja yang berbeda. Nih aku mau cerita satu-persatu ! Ayoo duduk manis sambil bacanya…

Hampir sebagian besar masa kecilku akhi habiskan dengan main layangan. Dari mulai pulang sekolah sampai menjelang petang. bahkan lewat petang. Kakekku adalah seorang ahli layangan kebetan yang jago.

Layangan kebetan berasal dari nama ukuran kertas pembuatnya. Yaitu kertas yang aslinya digunakan untuk pembungkus snack. Warnanya ada kuning, merah, hijau, putih. Nih kalau sebagai fungsi aslinya :

Kertas minyak dalam fungsi sebenarnya

Didaerahku, satu lembar yang masih utuh dinamakan satu kebet. Aku nggak tau pasti ukuran dalam centimeter. Tetapi memang cukup luas. Selain sebagai pembungkus snack, bisa juga digunakan untuk sampul buku dan tentunya untuk membuat layang-layang.

Dulu kalau main layang-layang aku selalu membuat sendiri. Dari mulai memotong dan mengiris bambu, mengikat, memberinya kertas sampai menerbangkan adalah kesibukan yang sangat menyenangkan. Lain dengan kakakku yang satu ini, dia hobynya dulu bikin wayang kulit (tetapi dari kertas karton). Yaa itulah kreatifitas anak desa jaman dahulu. Pokoknya positif dan bermanfaat.

Cara membuat layangan kebetan cukup rumit bagiku, karena hal terpenting adalah kesimbangan antara kanan dan kiri. Baik dari segi ukuran, kelenturan sampai beratnya. Selain itu yang menjadi ciri khas di daerahku adalah adanya sendaren. Yaitu kalau sudah dipasang dilayang-layang terbang akan mengeluarkan bunyi yang sangat merdu dan ramai tergantung dari jenis pita yang dipakai.

Ilustrasi layangan kebetan kurang lebih seperti ini :

Layangan kebetan bisa diberi beberapa macam bentuk ekor atau dalam bahasa daerahku disebut pepet. Yang biasa aku pakai adalah pepet iwakan, pepet busuran dan pepet gentongan.

Pepet iwakan adalah yang lazim dipakai. Bentukanya mirip dengan sirip iwak : ikan seperti ini

Kalau pepet busuran, mirip dengan pepet iwakan cuma lebih panjang dan biasanya ditarik ke atas kedua belah sisinya sehingga mirip seperti busur panah. Bentuknya seperti ini :

Dan kalau pepet gentongan, bentuknya mirip bulan sabit yang lengkungnya sangat sehingga mirip dengan gentong/kendi. Nih bentuknya seperti ini :

Oh iya, tadi aku menyebutkan adanya sendaren. Ini adalah aksesoris wajib bagi layangan gentongan ditempatku. Kalau sebuah layangan kebetan gak ada sendarennya, kesannya hina dan gak keren.

Sendaren dibuat dengan cara memasang kencang sebuah lembaran tipis dan panjang pada sebuah kedua ujung bambu yang telah dilengkungkan. Cara kerjanya adalah lembaran tipis tersebut dalam konsisi tegang akan tertiup angin sehingga akan bergetar keras dan mengeluarkan bunyi. Semakin kenceng anginnya akan semakin keras bunyinya.

Lembaran tipisnya biasannya terbuat dari janur / daun kelapa yang masih kuning yang telah dimasak sehingga awet atau tidak mudah putus. Atau juga pita jepang (yang biasa digunakan untuk hiasan) dan juga lembaran karung beras yang berwana putih. Masing-masing bahan akan menghasilkan suara sendiri-sendiri.

Biasanya kedua ujung sendaren dibuat dengan menggunakan kayu ketela pohon yang kering. Selain mudah dilubangi, kayu ini juga gak mudah pecah serta ringan kalau dibawa terbang oleh layangan.

Yang seru dari bermain layangan adalah waktu menerbangkan, waktu meamanjer atau mengikatkan benang layangan dan menungguinya terbang tinggi di angkasa. Kemudian juga saat menurunkannya.

Saat-saat memegangi benang layangan ketika terbang juga hal yang sangat seru. Semakin besar ukuran layangan, makan daya tariknya akan semakin kuat. Pernah satu layangan kebetan dipengangi oleh 3 orang baru kuat karena saking besarnya. Kalau aku sih biasanya bikin yang kecil atau agak besar dikit agar mudah memeganginya.

Terlebih lagi jika layangan itu putus. Dengan sepenuh jiwa dan raga, gak peduli jauhnya jatuh dimana, aku biasanya akan mengejarnya dengan sekuat tenaga. Walau nyangsang di pohin tinggi, di atap rumah orang, atau dimanapun aku akan tetapi mendapatkannya kembali.

Ketika layangan tiba-tiba nguil (terbang nggak seimbang) ancaman terbesar adalah layangannya akan nyangkut di pohon. Perjuangan untuk layangan itu dapat terbang tinggi agar tidak nyangkut dipohon juga seru sekali.

Ketika layangan sudah terbang. Tinggal saatnya melihat dan menyaksikan temen-temen yang lain melakukan hal yang sama. Kadang kami juga tolong-menolong misalnya untuk menerbangkan, membantu membuatkan layangan, atau juga membantu mengejar layangan jika ada layangan remen yang putus. Walau capek tetapi rasanya senang

Ada juga hal yang nyebelin. Yaitu kalau layanganya tidak mau terbang. Biasanya ada kesalahan tidak seimbang waktu mbikin. Layangan seperti ini dianggap tidak ngejling (tidak bagus). Tetapi ada saja akal kami agar dia dapat terbang, misalnya dengan menambahkan sintingan (bandul kertas disalah satu sisinya)

Menerbangkan layangan juga ternyata harus pintar dalam hal aero dinamika. Yaitu body layangan harus seimbang, harus kuat, dan juga ketika akan menerbangkan kudu pandai membaca arah angin berhembus. Salah satunya adalah tidak bisa layangan diterbangkan dalam kondisi angin berhembus sangat kencang, karena kalao ada kesalahan setting pada talinya, maka akan susah dikendalikan. Dan biasanya akan berbuah layangannya rusak atau nyangsan dipohon/

Oh iya dalam hal mengikatkan tali pada layangan, aku mengenal ada dua jenis yaitu tali goci dan tali gedeg. Tali goci bisasanya dipasang pada layangan kebetan. Dan tali gedeg biasa dipasang pada layangan kodokan.

Lah pokoknya banyak sekali hal yang didapatkan dari main layang-layang sewaktu kecil. Berkelana antar kampung juga sering aku lakukan untuk menerbangkan layangan dikampung orang. Ini juga menambah teman dan pengalaman.

Pokoknya seruuu… !!!

Tentang ahsanfile

Enak makan, enak tidur cukuplah itu di dunia... selalu memperbaiki keimanan di tengah lingkungan yang sudah rusak, cukuplah itu untuk akhirat..
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Layang-layang Kodokan dan Kebetan

  1. ahsanfile berkata:

    Hmm… Kalau anak perempuan suka main layang-layang, berarti tomboy yah :roll:

  2. achoey berkata:

    Saya jadi kangen main layang2
    ingat waktu kecil bermain layang2 di sawah kering :D

  3. Maskur® berkata:

    kurang to
    kang Jamin anake bu Tijem juga alumni SMP 1 lho, kae lho sing blog-e http://triyantobanyumasan.wordpress.com/

  4. Ping balik: Blogger Sekang Desaku « Banyumasan Wordpress

  5. Maskur® berkata:

    to jane lewih apik angger ana gambare
    aku wis kelalen gambare buntut2 layangan kebetean,

  6. xxx berkata:

    maen malam2 di kasih lampu (terserah pake baterai atau dinamo)
    ditempat gwe skrng lurahnya pun ikut maen.

  7. mulyadigomes berkata:

    Sendarenmoe kayak temancok

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s