Anak Pertama dengan Anak Pertama atau Anak Terakhir dengan Anak Terakhir : Tidak Boleh Menikah !


Ini dia satu lagi hal yang aku tentang yaitu sebuah adat dan kepercayaan bahwa pantang menikahkan anak pertama (mbarep) dengan anak pertama juga, Atau juga sebaliknya anak terakhir (bungsu) tidak boleh menikah dengan anak bungsu juga. Mungkin bagi sebagian orang hal ini ekstrim dan tidak menghargai adat istiadat, tetapi silahkan dibaca dengan lengkap tulisan ini, Anda akan mengerti dan berubah pikiran.

Dalam adat sebagaian orang jawa dan mungkin juga suku lain, ada sebuah adat yang melarang bahwa seorang anak pertama tidak boleh menikah dengan yang sama-sama anak pertama. Anak pertama paling cocok menikah dengan anak bungsu. Atau kalau tidak, anak kedua dan seterusnya, yang penting jangan sampai sulung dengan sulung atau mbarep dengan mbarep. Demikian juga untuk anak terakhir tidak boleh dengan anak terakhir atau bontot dengan bontot atau ragil dengan ragil.

Adat ini telah mendarah daging bagi banyak orang. Dan seperti sudah menjadi keharusan untuk dilaksanakan dan diterapkan pada keluarganya, jika tidak maka mereka yang percaya meyakini jika dilanggar akan terjadi bencana, pernikahan tidak bahagia, dan hal-hal jelek lainnya.

Mari kita bahas tentang asal muasal larangan ini !
Dari hasil bertanya, berdebat dan survey yang aku lakukan, adat yang berupa larangan ini sebenarnya memiliki maksud yang baik, yaitu dalam rangka mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. Dasar penilaiannya adalah dari faktor psikologi anak yang akan menikah tersebut. Yaitu :

  1. Anak pertama atau anak sulung atau anak mbarep memiliki kecenderungan sifat psikologi :
    1. Memimpin dan melindungi
    2. Memiliki keputusan sendiri
    3. Mandiri dan merasa bisa sendiri tanpa orang lain
    4. Suka mengatur dan tidak mau diatur
    5. Tidak mudah menerima pendapat orang lain.
  2. Anak terakhir atau anal bontot atau anak ragil memiliki kecenderungan sifat psikologi :
    1. Manja dan suka ketergantungan kepada kakak atau orang tua
    2. Cenderung penurut pada kakak dan orang tuanya

Nah coba bayangkan jika anak pertama ketemu dengan anak pertama !
Hasilnya adalah cenderung mereka akan selalu bertengkar, kekeh pada pendapat dan pikiran sendiri, susah untuk mengerti satu sama lain. Inilah yang dikhawatirkan oleh orang jawa atau suku lain terhadap pernikahan antara anak pertama dengan anak pertama

Kemudian bayangkan jika anak terakhir menikah dengan anak terakhir !
Hasilnya adalah keluarga yang tidak mandiri, masih menggantungkan pada orang tua atau saudara. Kepala keluarga yang tidak tegas, hal ini tentunya tidak baik bagi masa depan keluarga nantinya.

Dan kemudian bayangkan jika anak pertama menikah dengan anak terakhir !
Inilah kondisi ideal yang diharapkan atau dicari oleh orang jawa dalam mencarikan atau menyetujui jodoh untuk anaknya. Kedua kecenderungan psikologi akan saling melengkapi. Apa lagi kalau yang anak pertama adalah laki-lakinya, yang anak terakhir adalah wanitanya. Cocok sekali untuk menjadi suami istri.

Tetapi apakah itu betul ? mari kita lihat dari tinjauan agama !
Inilah dasar pemikiranku yang menentang adat itu yang dulu pernah aku disuruh untuk menaatinya. Bagaimana islam memberikan solusi pencapaian sebuah keluarga yang bahagia tanpa memandang latar belakang yang menikah itu anak nomor berapa.

Lha terus apakah adat itu salah ? kan tujuannya baik yaitu dalam rangka mewujudkan keluarga yang bahagia !
Ada tiga kesalahan yang ada dalam adat ini jika diterapkan dan dijadikan pedoman hidup yaitu :

  1. Tidak mengadopsi kondisi jika yang mau menikah adanya cuma anak pertama dengan anak pertama atau tinggal anak terakhir dengan anak terakhir.
    Di suatu daerah jangakauan sudah tidak ada lagi calon yang memenuhi adat ini, maka bisa-bisa nggak jadi menikah sampe tua. Bukankah ini sebuah pelanggaran baik dari sisi kemanusiaan maupun sisi kemasyarakatan. Artinya ada kondisi adat membelenggu seseorang sehingga tidak jadi menikah.

    Belum lagi masalah cinta. Apa bila menikahkan seseorang tidak berlandaskan cinta, maka ini sudah pasti kelihatan dari awal bahwa keluarga yang terbentuk tidak bahagia. Bagaimana seorang suami akan sayang kepada istrinya dalam kondisi tidak cinta atau sebaliknya.  Demikian juga untuk cinta yang tidak kesampaian. Seseorang lelaki yang sudah terlanjur cinta pada seorang gadis atau sebaliknya, ketika ternyata yang menjadi istrinya adalah orang yang tidak dicintai, maka kasus yang sering terjadi adalah perselingkuhan.

  2. Penilaian hanya didasarkan pada keumuman kecenderungan psikologi.
    Memang benar anak pertama cenderung keras sifatnya dan akan terakhir cenderung manja. Tetapi bagaimana jika yang terjadi adalah kondisi keluarga yang menjadikan anak-anaknya manja semua. Walaupun anak pertama bisa saja manja karena dari kecil didampingi oleh pengasuh, apapun dipenuhi dan dituruti sehingga tak ubahnya seperti anak terakhir. Atau anak terakhir menjadi lebih dewasa karena pola asuh orang tuanya.
  3. Mendahuli Ketetapan Tuhan dan menjadi percaya ada sesuatu yang bisa menandingi kuasa Tuhan
    Yaitu seperti sudah mengetahui dan memastikan apa yang akan terjadi esok waktu yaitu bencana dan ketidak bahagiaan sebuah rumah tangga yang jika melanggar adat ini. Bukankah hari esok hanya Tuhan yang tau. Disamping itu dengan mempercayai akibat dari pelanggaran adat ini adalah sama saja percaya bahwa pelanggaran ini bisa meimbulkan perkara yang menjadi urusan Tuhan. Artinya percaya ada kekuatan yang sama-sama bisa melakukan sesuatu sebagai mana Tuhan berkehendak walaupun sebagian hal saja, yaitu dalam urusan menentukan kebahagiaan, becana dan nasib sebuah rumah tangga.

    Secara akal sehatpun mempercayai adanya tandingan Tuhan dalam menentukan perkara kehidupan adalah sama saja percaya bahwa Tuhan itu lemah dan bisa diintervensi. Bukankah ini sebuah hal yang sangat berdosa.

Lalu bagaimana prinsip yang paling memenuhi untuk dijadikan pedoman dalam mengambil jalan menuju pernikahan baik oleh orang tua mapupun oleh calon yang mau menuju jenjang pernikahan ?

Bahwa prinsip hidup yang baik adalah yang bisa menjangaku seluruh sisi kondisi kehidupan tanpa kecuali. Apapun kondisinya, prinsip hidup yang bagus dan baik tidak ada kelebihan yang menimbulkan kekurangan atau masalah di lain hari. Semua akan baik-baik saja jika prinsip itu dijalankan.

Ada satu hal yang bisa menjawab hal bahwa apapun kondisinya pernikahan itu akan bahagia yaitu niat “bahwa pernikahan adalah ibadah”. Untuk mencapai niat seperti ini tentunya orang tersebut sudah memiliki bekal ilmu agama yang cukup sehingga sudah bisa menempatkan posisi dirinya ketika hidup dan bermuamalah dengan orang lain.

Dalam agama kita, Nabi s.a.w telah memberitahukan bahwa jika pernikahan itu dibangun bukan atas dasar niat agama (ibadah) maka pernikahan itu tidak akan bahagia. Karena pedoman hidup yang paling sempurna adalah agama. Mungkin aku bukan orang pandai menyampaikan hal-hal keagamaan, tetapi aku percaya bahwa yang diajarkan oleh agama itu bisa menjawab seluruh sisi kehidupan.

Tetapi sayangnya yang terjadi adalah orang lebih cenderung untuk menjalankan agama separo-separo dan masih mencampurkan dengan adat dan nafsu yang seringnya adat dan nafsu ini bertentangan dengan ajaran agama.

Tentang iklan-iklan ini

95 comments on “Anak Pertama dengan Anak Pertama atau Anak Terakhir dengan Anak Terakhir : Tidak Boleh Menikah !

  1. Hiks kenapa dua postingan pertama semua ngebahas pernikahan …
    BTW baru dengar tentang ini >_<
    padahal jawa asli

      • bukannya ga boleh,tpi lebih baik dihindari,setau saya sih menurut orang kuno dengan pengalaman dan ilmu mereka pernikahan pasangan seperti itu biasanya di ikuti dengan musibah yang akan menimpa si orang tua,dan orang kuno juga ga sembarangan dalam menyimpulkan seperti itu,

        • Itu adalah bentuk hukuman dari Allah kepada manusia yang menyekutukannya dengan cara percaya bahwa percaya kepada pengalaman dan ilmu orang-orang kuno itu bisa mendatangkan atau menghindarkan dari musibah.

          Jadi jika kita percaya dengan ini dan itu akan menyebabkan musibah, ya akan didatangkan musibah beneran. Jadi itu bukan pengalaman dan kesimpulan orang kuno, tetapi adalah adzab Allah …

  2. Wah..
    Sepakat sama isi tulisan di atas
    Saya anak bungsu dengan istri yg juga bungsu..
    Kakak sulung saya juga bersuamikan seorang sulung..
    Baik-baik saja tuh :)
    kecenderungan psikologis bungsu – sulung itu memang ada. Tapi toh kita punya pegangan agama yg sudah menggariskan hak – kewajiban suami – istri. Selama pembagian perannya masih dijalankan dengan sebaik-baiknya, insyaAllah akan baik juga hasilnya :)

    • menurut tinjauan agama, gak ada pengaruh mau anak pertama dengan anak nomor berapapun. Yang penting adalah niat dan sudah menguasai ilmu berumah tanggal, tahu hak dan kewajiban suami atau istri… insyaAllah akan baik-baik saja …

      Lupakan dan tinggalkan kepercayaan yang tidak sesuai dengan agama, karena itu hanya akan menyusahkan diri kita di dunia dan di akherat.

      di dunia kita jadi dibatasi dengan hal yang jika di teliti lagi adalah tidak masuk akan
      di akherat kita akan tersiksa karena mengamalkan yang bukan ajaran agama ..
      :D

      • apakah kalo anak bungsu dengan anak bungsu akan baik-baik saja menikah suatu saa nanti dan tidak terjadi hal-hal buruk?
        karna saya dengan pacar saya sama-sama anak bungsu tetapi peremupuan bedah umur 11bulan 3hari tpi tahun kelahiranya sama ?
        balas terimah kasih

        • Nggak ada masalah…
          Dalam pernikahan ukuran kebahagiaan, keberkahan dan sebagainya itu ada pada niat dan penguasaan ilmu agama khususnya pernikahan. Niat untuk ibadah atau untuk niat misalnya mendapatkan dunia seperti harta dan posisi sosial. Kalau niatnya ibadah pasti kebahagiaan itu akan datang. Kemudian masalah ilmu agama, semakin kita menguasai ilmu agama, insyaAllah akan lebih memberikan jalan untuk bahagia.

          Tidak ada yang namanya nomor urut anak, weton, arah rumah dan sebagainya itu mempengaruhi nasih seseorang kecuali dia mempercayainya. Orang yang hanya percaya pada Tuhan, maka insyaAllah Tuhan akan memberkahinya. Tetapi jika percaya pada adat maka Tuhan akan menghukum orang tersebut dengan mewujudkan apa yang dia percayai. Misalnya kalau percaya anak pertama dengan anak pertama akan membawa bencana ya akan dikasih bencana beneran.

  3. maaf sebelumnya,apa itu semua larangan yang memberi sandang pangan bahkan kehidupan untuk kita????
    semua itu sudah di atur Allah,jadi jalanin aja apa yang ada,ini menurut saya sendiri.
    mohon maaf karena saya tidak setuju dengan permasalahan ini

  4. Saya Anak terakhir Dan Akan Menikahi Anak Terkahir, Tapi Yang Akan Aku Nikahi Masih Punya 3 Kakak Perempuan Dan 1 Kakak Laki-Laki Yang Semuanya Belum Nikah.
    Bagaimana Solusinya???

  5. saya orang bugis,,orang tua saya punya pndangan seprti tu jg…dri sekian wanita yg saya suka,,sebahagian besar/rata2 anak pertama….sungguh aku dilema…gimna ya solusi buat aku/??

    • Lawan hal yang bertentangan dengan ajaran agama, tentunya dengan cara yang baik, jangan menyakiti hati orang tua.
      Tidak akan masuk kategori durhaka anak yang melawan perintah orang tua dimana orang tua itu memerintahkan untuk berbuat ingkar terhadap Allah SWT.

    • iya nih aq termasuk korban “ngalor-ngulon”……plus anak pertama sama anak pertama…hufffttt knapa harus ada kyak gituan siiih…….

      • wah senasib nih.,, saya pnya pcr kayak gitu katanya arahnya gk baik.,., gmn tu solusinya,.., adat jawa ni gk prcya sma tuhan.,

      • TInggal pilih … mau ikut ajaran Tuhan apa ajaran kejawen…
        ajaran Tuhan itu berlaku untuk seluruh alam, ajaran kejawen itu berlaku di jawa doang. dan sangat banyak variasinya… dan kita pasti bisa membedakan mana yang benar mana yang salah

  6. iyahhhh aquww juga sebel sama larangann ituu…. caranya gimana sehhh supya direstuin anak pertma dan pertama,…aquww kann gak mau dipisahin sama dia…

    • Yaaa dengan cara yang baik ngomongnya,
      untuk dapet restu adalah gimana kita bisa meyakinkan sang pemberi restu itu paham agama dan tidak lagi menggunakan kepercayaan jawanya yang bertentangan dengan agama.

      Dan yang paling penting adalah ketaatan kita terhadap orang tua harus berlandaskan ketaatan kita terhadap Allah SWT. Jika orang tua kita menyuruh kita untuk berbuat yang bertentangan dengan agama, maka tolaklah dengan cara yang halus

      • Tapi…bukn kah restu org tua adlh rstu Allah..?? Lalu gmna klo ortu gak stuju krn ank satu n tiga..?? Smntara saya ingn mnikah krn bribadah pd Allah…

        • Keridhaan Ridho Allah tergantung pada ridha orang tua itu benar. Tetapi orang tua yang bagaimana dulu. Jika orang tua itu dalam ketaatan maka itu menjadi benar. Tetapi jika orang tua tidak dalam ketaatan ya nggak mungkin diridhai Allah.

  7. i agree yang penting nikahnya wat beribadah bkan untuk main2 dan untuk menyempurnakan agama allah swt………. saya se7 dengan penjelasaan di atas hehehe

  8. Saya lebih memilih agama dri pada adat.
    Lw adat ne pantangan ny kurang jelas maksd nya. .
    Kalau agama memang sudah jelas tujuan kita d.larang melakukan sesuatu

  9. aq mau tanya ?
    Aq anak pertama aq pny pacr anak ke 7 tp beda ayah dya.
    Ibu nya pnya anak 4 dr
    ayah pertama. Ayah pertma dah gak ada.truz nikah lagi pnya anak 3. Nah pcar q it anak no 3 dr ayah yng trahr.
    Kira2 masalah ndak. Sm hubungan q ke depan
    Mksh

  10. tuhan cuma menakdirkan hidup dan mati
    sedangkan jodoh dan rejeki,
    itu ada di tangan kita
    bukan di tangan orang lain
    bukan di tangan orang tua
    orang tua kolot dan primitif yang masih melarang2 anak pertama g boleh dg anak pertama

  11. Calon suami aku anak terakhir juga sama seperti aku, sebelum rencana menikah semua baik-baik saja, membayangkan pernikahan dengan keluarga yg bahagia, tetapi setelah lamaran semua berubah drastis…
    Inikah yang dimaksud tidak jodoh?!?! Semoga ​اَللّهُ meberikan rencana yg lebih baik…

  12. saya juga mengalami nasib sama yaitu arah ngalor ngulon dengan pasangan saya, tapi semua aku kembalikan pada yang kuasa. semua tergantung yang menjalani dan bagaimana kita usahanya.

  13. Saya dan pacar saya sama2 anak pertama, nah hal itu yg dijadikan permasalahan oleh kedua orang tua saya terlebih dtmbah kalau katanya saya punya adik dan pacar saya pun jg punya adik jdi katanya nantinya bakal repot. Kira2 bagaimana yah memberitahu orgtua tntg hal ini agar mreka mengerti??? adat jawa ini membuat susaah..huuh…*trims

    • Menurutku,
      pertama kita harus menggunakan alasan yang benar tentang masalah ini yang bersumber dari agama yang benar. Alasan lain aku yakin akan ditolak dan menambah runyam.

      kedua jelas kita harus menyampaikan dengan cara yang baik. Sampaikanlah bahwa menurut agama tidak larangan ini dan itu seperti adat jawa. Niatnya ingin mengamalkan ajaran agama secara utuh.

      Kita bisa minta bantuan orang yang lebih tinggi posisinya dari orang tua kita untuk menyampaikannya seperti ustadz atau lainnya yang mengerti bahwa adat jawa yang ingin dipaksakan oleh orang tua kia adalah tidak ada di ajaran agama.

      • iya sih tapi masalahnya nanti di kira udah ngebet merid pdahal kan belom, toh qt berdua msih sma2 pengen kerja dan sukses dlu.
        belom lagi mama yg slalu bawa2 kjadian kaka sepupu saya yg punya istri yg sma2 anak prtma tpi sewaktu ingin melahirkan,istrinya meninggal..nah itu tuh yg makin bkin dijadikan alasan yg ktanya psti ada yg ngalahlah,inilah itulah..hmm…

        • iya bener! katanya jg banyak kejadian hal buruk kyk gt yg disangkut pautkan dgn anak pertama dgn anak pertama. Makanya semakin kaku dan percaya deh orang2 tua

  14. Adat jawa juga kan niat baik, yaitu demi kebahagian pernikahan yang berarti itu harapan dan doa.
    Sebagian yang tidak suka karna sudah terlanjur kata bang madid :D
    Ane sih belum punya calon gan, makanya enjoy dan ada di tengah2 masalah ini. CMIIW

  15. hukum adat jangan di campur dengan hukum agama…………..sumbernya atau asalnya dah beda…..hukum adat setiap daerah juga beda2. jadi jngn campur aduk kan adat dengan agama..

    • Yup, harus milih salah satu. Dan kalau ingin jalan selamat dunia akherat, sebagaimana diajarkan mulai dari SD sampai sekarang, bahwa jalan selamat adalah Agama Islam…

  16. numpang curhat gan ..
    nasib ku yang malang sudah aku niati untuk menikah dengan gadis pujaan ku yang beragama non islam dan mau aku ajak beragama islam …dan cewek ku mau,. tetapi orang tua ku menolak dan mengancam tak akan menganggap ku anak jika nekat nikah karna menurut adat jawa anak nomer 1 tak boleh nikah dengan anak nomer 3,. semoga saja ortu ku bisa mengerti dan menyetujui pernikahanku

  17. ada yg punya solusi dengan larangan nikah karena posisi rumah ‘ngalor-ngulon’?????hiks…need help…..
    g pengen syirik tp klwrg terlalu ‘kaku’ dg adat ini terutama ibu(karena q anak tunggal)trims infonya T_T

  18. hal sama juga terjadi padaku. Semangat! pikiranku jg sama, agama! Jelas disebutkan segala sesuatu terjadi hanya karena Allah bukan?

    • Yaa nggak masalah. Nggak ada larangan agama soal nomor urut anak ataupun masalah anak tunggal. Justru larangan itu datang dari adat dan budaya. Nha tinggal pilih mau ikut agama atau adat. Tapi kita kan sudah tau, bahwa jalan selamat dunia akherat adalah agama….

  19. Hmm,
    aku punya tambahan lagi nih jika menrut adat:
    1; dilarang jilu (anak 1 dapat nomer 3 atau sebaliknya)..
    2, weton, dilarang weton wage dengan pahing (atau sebaliknya)..
    3, menurut arah, dilarang dengan arah rumah lurus berbentuk garis ( + ) atau arah miring barat dengan utara..
    4, tidak boleh menikah dengan calon yg berasal dari desa orang tua (kerbau bali asal)..
    Semua itu adat jawa, dimana adat itu dibuat karena kebiasaan orang jawa menghafal kejadian menurut apa yg telah terjadi, maka dari itu dibuat lah larangan yg seperti itu, agar keturunan tidak mengalami hal buruk seperti orang terdahulu.. Gitu.. Walaupun tidak ada alasan ilmiah, tapi semua aturan dibuat untuk kebaikan, bukan musrik tapi ini pengamatan orang kuno..
    Bagi orang islam percaya aja m agama, karena agama itu menuntun jalan yg terbaik.. Adat jawa itu boleh dilanggar, dengan alasan ibadah di agama, itupun jgn terlalu harus pakai logika karena ilmu pengamatan itu penting, jgn terlalu percaya m adat juga..
    Karna aku juga anak nomer 3.. Jalani aja dulu, klu cocok dan yakin, bukan karena nafsu tapi karena ibadah pasti Allah ngasih yg terbaik, percaya atau enggak itu tergantung diri sendiri..
    Tapi kalau aku sih, percaya, karena pengamatan ku sendiri membuktikan bahwa memang benar, jika ada yg melanggar itu dapat keburukan, tapi aku gak mau ribet, yg penting itu:
    1, Berpedoman agama..
    2, lakukan pengamatan masalah bibit (keturunan orang baik atau enggak), bebet (kelakuane orang tua dan calon e gimana), bobot (ilmu agama dan harta nya cukup enggak)..
    3, samakan dengan adat jawa, jika terbukti secara nyata, maka jauhilah, ingat, jgn ada nafsu, mentang-mentang calon e kaya + (tampan atau cantik) malah lupa agama dan lupa adat.. Hal itulah yg bikin hancur nya pernikahan karena mengejar duniawi..
    4, semua itu kembali pada Takdir, jodoh, rejeki, dan mati itu tak ada yg tau.. Maka lakukan usaha yg terbaik yg bisa anda lakukan..
    Jika masih bertanya tentang jilu atau apa masalah adat, maka jgn bertanya, dan lakukan pengatan sendiri biar kalian lebih puas dan tidak berdebat.. Hehhhee

  20. Aq jga anak trakhir dan pcar q jga ank trakhr. . .
    Bnyak yg nyuruh qmi utk pisah..
    ada yg blang ssama ank trakhr ntar klo udh nikah ada yg prg ninggalin pasangan na. . .
    Trus ada jga yg blang ga cocok dari nama,
    Kata na nama q lebih kuat di banding kan nama pacar q. . . ??
    Aq jdi bngung, smpai skrang blum ada yg bisa ngasih solusi yg tpat utk membuat hati q tenang. . .
    Tolong solusi na dong,

  21. anak pertama nikah dengan anak pertama,katanya kurang bagus….kalau menurut saya enggak juga….coba anda survey banyak pasangan yang bercerai apakah banyak dari pasangan anak pertama sama anak pertama….?…kalau soal kematian atau musibah jangan disalahkan karna pernikahan itu…..banyak orang mati dan dapat musibah apa karna gara-gara ada anaknya yg menikah anak pertama sama anak pertama…..?

  22. hebat sekali,,, saat “ilmu titen” orang jaman dulu disamakan dengan “takdir tuhan”. Lebih hebat lagi dia yang melakukan hal ini mengaku sebagai orang islam. Salah kaprah dalam pemahaman kaidah2 islam.
    Jujur saja saya sedih dan kecewa ndak jadi nikah hanya karena hal seperti ini.
    Salam,

  23. aq mbarep cwek ku juga mbarep, sudah lama kami berpacaran, namun sampai sekarang aq belum juga bisa meyakinkan orang tua ku, sampai kami sering kali ingin dipisahkan oleh orang tua kami dengan cara yang aneh2 pula…

  24. spa blang nak pertama dngn nak prtama ngga bsa, sdh bax kok orng dskitar sya yg hidupx bahagia wlpun sma2 nak perta…….
    tu smua musrik………

  25. Saya mengalami hal ini,,n saya sudh coba jlaskn pd orgtua bhwa hal tsb hny mitos n kprcyaan tradisi adt jawa yg sudh kental.. saya ingn mnikah krn ingn bribadah pd Allah n mnjauh dr zina,,tp klrga saya mnentang jika saya brhubungn dg anak ktiga maka mrka takkan mrestui hubungn kami… jujur,,saya mrasa sngat bingung.. sisi satu saya ingin sgera mnikah guna bribadah..sisi lain saya ingn membahagiakn orgtua..?? Apa rasa ini salah jika saya mncintai anak ktiga dam ingin mnikah dg dia..??

  26. adat istiadat atau tradisi turun temurun sebenarnya bukannya larangan atau pantangan yg hrs dijauhi, atau anjuran yg hrs pula dilakukan. tetapi suatu hal utk dipertimbangkan. saya orang jawa asli dan saya tidak pernah mendengar ada larangan menikah sulung dgn sulung atau bungsu dgn bungsu. mungkin ada tradisi seperti itu di daerah (jawa) lain. tapi kalau didasarkan alasan psikologi karakteristik yg dimiliki “kebanyakan” sisulung dan sibungsu, saya pikir nggak ada salahnya kalau dijadikan bahan pertimbangan….

  27. Bgaimana jka pcr Z anak k2 dri 4 brsaudra sedangkan z anak pertama dri 4 brsaudra tpi 2 lain bpak. . .
    Apkah itu bgus?

  28. sya anak trakhir dari 3 bersaudara dan psangan 1 anak pertama, kami berdua g mempermasalahkn, yang jd msalah orang tua si wanita yang mnakutkan hubungan 1 ketmu 3 ( jilu) apa solusi untuk myakinkna orang tua si perempuan.

  29. saya dijauhkan calon mertua saya karena “mbarep telon” dan jumlah tanggal kelahiran kami “rampas”, tetapi saya gak percaya, saya dengan atas nama cinta dan ingin membina hub bahagia akan tetap saya usahakan supaya di restui orang tua
    kabar terakhir mnyatakan bahwa boleh nikah tetapi ayahnya tidak mau menjadi wali, apakah sedemikiankah perlu??

    • Kalau pernikahan itu didasarkan atas nama cinta ya sama saja… nggak akan bahagia… Soalnya pernikahan yang akan diberkahi itu niatnya harus untuk beribadah di jalan Allah. Atas nama cinta sampai tidak mendapat restu dari orang tua apapun alasan orang tua ya sama saja berdosa.

      Tetapi jika pernikahan Anda didasari karena niat ibadah karena Allah, apapun yang terjadi itu insyaAllah akan diberkahi. Orang tua yang tidak paham tentang hukum pernikahan dalam Islam tetap kita harus berbuat baik kepada mereka.

  30. saya dan pasangan saya sama” saling mencintai tetapi ada pihak orang tua dari si cowok tidak menyetujui dikarenakan kami sama” anak tunggal dan tidak mempunyai saudara kandung dikhawatirkan bila masa depan kami akan susah . ..
    bagaimana cara kami untuk mengatasi hubungan ini , tolong mintak penjelasannya ?
    terima kasih

    • Ya itulah masalah adat yang tidak sesuai dengan perkembangan jaman. 1 contoh kasus dijadikan pedoman untuk semua orang padahal masing-masing orang memiliki kondisi sendiri-sendiri.

      Memang secara psikologis anak tunggal itu cenderung memiliki jiwa “semuanya milikku” “semuanya harus menurut padaku”

      Dan itulah yang menjadi dasar adat jawa melarang pernikahan anak tunggal dengan anak tunggal karena biasanya akan sering bertengkar. Sering bertengkar akan membuat keluarga tidak bahagia.

      Tapi itu mungkin terjadi pada orang yang tidak memahami ajaran agama dengan baik. Dengan ilmu agama, apapun kondisinya, pernikahan itu akan bahagia.

  31. Minta saran, ibuku melarang untuk menikah dengan anak pertama dan kebetulan aku anak pertama. Mau dikasih penjelasan seperti apa ibuku tetap ngotot. Jadi tolong kasih saran dalam menghadapi ibuku. Aku gak mau jadi anak yang durhaka. Mohon tanggapannya ya tq

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s