Journal Pediatric, Oktober 2009 – Semakin lama menyusui, semakin berkurang gangguan mental pada anak dan remaja


Rupanya para ilmuwan barat sudah ada yang perhatian mengenai wanita-wanita yang tidak mau menyusui anaknya atau mengganti susunya dengan susu sapi. Hasilnya dari penelitian yang melibatkan banyak sampel itu cukup mengejutkan, yaitu kurangnya pemberian ASI pada anak berpengaruh pada gangguan mental ketika manusia itu masih anak-anak dan remaja.

Ini mengingatkanku pada kondisi anak-anak kecil sekarang yang sudah jauh sekali dari etika dan kesopanan. Walaupun nggak semuanya, tapi aku lihat cenderung anak-anak sekarang itu berbeda banget dengan jamanku. Dulu anak kecil itu sangat hormat pada orang tua, sama orang lain aja yang lebih tua itu menghormati, misalnya lewat di depannya ya permisi, apa lagi sama orang tuanya. Tapi anak-anak sekarang ampuun dah.

Kalau dikaitkan dengan jumlahnya pemberian ASI sepertinya ini adalah sebanding dengan jumlah perhatian orang tua terhadap anak. Anak yang diberi asi langsung pasti beda dengan anak yang diberi ASI perah atau susu formula, yaitu pada banyaknya perhatian pada si anak yang akan mempengaruhi perkembangan emosi.

Menurutku itu bukan ASInya, tetapi perhatian orang tua pada anak. Orang tua yang tidak memberi ASI atau sedikit memberi ASI atau memberi ASI tidak langsung itu pasti jarang berkomunikasi dengan anak. Begitu juga ketika sudah lewat masa menyusui, yang masih kecil saja sudah jarang komunikasi, apa lagi sudah lebih besar. Biasanya langsung dititipkan di TPA, ketemu sehari cuma beberapa jam dan hari libur yang saatnya bersenang-senang. Perkembangan emosi anak kurang sekali kontrol dari orang tuanya.

Contohnya itu jika anak itu diemong oleh embahnya, itu cenderung nakal dan bandel, karena kurangnya perhatian orang tua. Embah pasti memanjakan dan si anak dengan embahnya itu lebih berani untuk melawan. Embah karena sayang akhirnya membiarkannya sehingga anak menjadi semaunya sendiri.

Aku yakin masalah seperti anak menjadi bandel, menjadi emosian, menjadi tidak penurut, semaunya sendiri secara pemberian ASI secara tidak langsung berpengaruh. Bukan pada ASInya tetapi pada jumlah perhatian dan pengawalan perkembangan emosi si anak

Dan aku yakin, inilah sesuatu yang dihindari oleh Islam dengan adanya syariat untuk menyusui paling tidak sampai 2 tahun, dan wanita itu besar sekali pahalanya ketika merawat, mendidik dan membesarkan anak. Ternyata di sanalah hikmahnya…

Mungkin satu dua atau kita yang wanitanya bekerja itu bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Ini orang-orang yang sudah dewasa dan sudah mengerti bagaimana bekerja dan berkeluarga yang baik. Tetapi ternyata tidak semua orang bisa seperti itu. Kebanyakan malah anak itu terlantar, besar sama asisten rumah tangga. Bahkan ada yang lebih kepada yang momong dari pada sama ibunya sendiri.

Hmmm… bersyukurlah dan beruntunglah memiliki posisi wanita yang sama suaminya dicukupi kebutuhan nafkahnya sehingga bisa meraih pahala besar untuk menjaga keluarga….

Iklan

2 pemikiran pada “Journal Pediatric, Oktober 2009 – Semakin lama menyusui, semakin berkurang gangguan mental pada anak dan remaja

  1. logikanya mmg dgn asupan asi yg maksimal 2 thn, setidaknya selama itu pula sang ibu berinteraksi dgn buahhatinya secara dekat, baik lwt usapan maupun bhs verbal sang ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s