Antara Khawatir dibajak, medit, pelit, menjaga haki dan branding


Pernah lihat sebuah foto yang ada watermarknya besar sekali atau yang mengambil porsi sekian persen sehingga ketik melihat foto aslinya malah terganggu.

Saya menemukan ini karena seperti judul tulisan ini yaitu antara satu dari alasan perlunya memasang watermark pada foto atau gambar:

  • foto khawatir dbajak
  • medit atau pelit
  • menjaga haki
  • personal atau corporate branding

Trus kalau sudah tau, ngapain di bahas ?

Nhaa itu dia, karena ternyata setelah saya mbaca suasana di dunia bisnis online, saya merasa kalau di sana ada banyak sekali plagiator. Dengan enaknya mencopy paste sesuatu yang mereka inginkan.

Urusan nomor 3 dan 4 tidak akan saya bahas, karena pasti mereka memiliki cara yang elegan untuk melakukannya.

Coba perhatikan kondisi berikut:

  1. Ada watermark yang hampir menutupi seluruh foto atau gambar, walau transparan. Ada juga yang membuat watermark di bagian-bagian yang nggak semestinya.

    Contoh gambar ini, sangat mennganggu penglihatan

    image

    Contoh pemberian watermark yang berlebihan

    Sepertinya mengganggu sekali watermarknya ketika sedang melihat foto kataknya

  2. Ada yang sampai memproteksi halaman website agar tidak bisa klik kanan atau copy paste
  3. Ada yang memasang informasi tentang ancaman hukuman jika melakukan copy paste tanpa ijin

Hal tersebut di atas adalah cerminan dan kecenderungan untuk nomor 1 dan 2.

Setuju nggak ?

Iklan

19 pemikiran pada “Antara Khawatir dibajak, medit, pelit, menjaga haki dan branding

  1. Tdk semata medit atau pelit. Tp etikanya saja (netiket): meminjam barang pny orang tanpa ijin (apalagi bkn sodara– bukan teman akrab) itu kan nggak sopan.

  2. Internet atau dunia maya adalah media yang menyediakan fasilitas gratis, tidak bayar, kecuali untuk hal tertentu. Maka kita pun tak harus seenaknya kalau blog kita tidak boleh dicopy, didownload, dan sebagainya, toh pada kenyataannya isi artikel kita pun juga ngambil dari ilmu atau pengetahuan orang lain. Apalagi kalau mau memikirkan pahala kebaikan – dari ilmu dan pengetahuan kita – yang kita sebarkan lewat dunia maya, tentu kita akan sangat senang sekali kalau blog kita banyak dikunjungi, entah sekedar dibaca atau bahkan direpro, atau dirilis ulang kembali walau tanpa disebutkan sumbernya dari kita. Apalagi kalau di dunia Islam, ilmu yang disembunyikan itu berdosa hukumnya. Masakan kita menyuburkan situs-situs porno yang mempunyai β€˜etika’ bebas diunduh, dicopy, dan diupload atas nama sendiri? Toh nyatanya juga saat kita bikin tugas akhir di sekolah, kita juga disuruh mencari referensi-referensi, apakah kita juga mengirimkan ijin secara tertulis kepada penerbit atau pengarangnya, meski kita telah membeli bukunya? Tidak kan? Saya malah senang kalau apapun yang saya tulis dijiplak atau dicopy paste tanpa harus menulis nama saya sebagai referensinya. Masalahnya saya masih baru di dunia blog, jadi prosentase artikel saya diintip dan disebarluaskan juga masih rendah. Mudah2an ini menjadi bahan renungan kita semua. Barakallah

    • Emm jazakallah akh tambahannya.

      Yang aku tulis ini spesifik untuk foto atau gambar, bukan ilmu pengetahuan. Kalau artikel semacam tutorial, tips, dan sejenisnya itu malah berlimba-lomba membuatnya agar banyak orang yang mengakses, walau nggak ikhlas dengan dipasangnya iklan.

      Tapi soal foto ini sedikit berbeda dengan ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s