Hari pertama di Jakarta, terkesan lagi yang namanya panas dan macet


Hari kamis jam 10 siang kemarin, pas buka email resmi kantor ada yang mengejutkanku yaitu ada surat panggilan untuk aku bertugas lagi di jakarta selama sebulan. Yang mulai pusing adalah perutku untuk diajak mikir sana sini, dan menjadi capek dadakan kakiku untuk aku mempersiapkan segala sesuatunya, karena semua serba mendadak.

Ya udah, berangkat aja dengan komposisi baju 40% belum dicuci. Ha ha ha, aku emang nggak suka punya banyak pakaian. Aku pas-paskan sesuai kebutuhan saja jadi kalau ada yang telat nyuci aja bisa-bisa pakaian hari kemarin akan aku pakai lagi.

Perjalanan aku rasakan seperti nostalgia ketika aku masih di jakarta, hampir jadi acara bulanan aku akan menempuh jarak 500km sekali jalan. Kini jalan yang sama aku lalui lagi tetapi suasananya nggak enak karena ternyata bulan september kayaknya bulan ngebut bagi para pemda menyelesaikan pembangunan perbaikan jalan.

Sampai menjelang masuk tok cileunyi tidak ads yang berubah. Masih tetap kanan kiri jalan adalah pedagang ubi cilembu dan tahu sumedang fresh from wajan. Suasana tol juga sama, sebelah kiri didominasi truck-truck besar yang lambat, sebelah kanan oleh mobil-mobil pribadi yang balas dendam memacu kendaraanya di atas 120km/jam sebelum sampai tol cikampek yang paling bisa 30km/jam alias nggremet.

Keluar tol aku sudah membayangkan jalanan yang macet, berdebu dan panas sekali. Ini benar tapi masih saja aku terkesan dan seolah baru mengalaminya. Maklum kotaku adalah kota yang lancar jaya dalam transportasi. Mesin kendaraan tak pernah memanas dan ngeden dalam kemacetan.

Hari pertama di Jakarta, terkesan lagi yang namanya panas dan macet. Tetap saja aku harus menggerutu dalam hati terhadap apa yang aku rasakan. Jalanan yang macet, lalu lintas yang semrawut apalagi angkot-angkotnya yang seolah jalan punya sendiri, berhenti dan belok sesukanya. Milih menghindar deh daripada ribut sama orang yang pakainya otot tapi nggak pakai otaknya.

Malam ketika melihat jalanan yang macet cet, aku jadi bersyukur sudah nggak lagi tinggal di kota ini. Saya ke sini cuma beberapa waktu saja untuk tugas, bukam untul menetap seperti sebelumnya.

Walau begitu ada kenangan yang aku masih seneng melihatnya. Bubur ayam pak tua, warung makan solo, sunset sore hari dan soto seger terminal pulogadung. Kayaknya bakal jadi judul tulisan tersendiri ntar yang bubur ayam pak tua dan soto seger terminal pulogadung.

Iklan

2 pemikiran pada “Hari pertama di Jakarta, terkesan lagi yang namanya panas dan macet

  1. Wah, sedang ada di Jakarta? Sip, ayo kopdaran Mas :hihi. Iya, sekejam-kejamnya kota kabupaten masih lebih kejam lagi ibukota :hehe. Semoga tugasnya di Jakarta selesai dengan baik ya Mas, yah kota ini memang akrab banget dengan kemacetan jadi kita tidak boleh heran :hehe. Sip!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s