Pak ogah Tukang buka tutup jalan di sepanjang jalan pejagan – songgom – prupuk


Antara membantu mengatur lalu lintas pada saat ada perbaikan jalan karena jalan bisanya gantian dan Tampang mereka yang menyebabkan khawatir akan berbuat jahat. Tapi apapun kondisi mereka, kadang keberadaan mereka memang perlu, tapi kadang malah bikin jengkel karena mengganggu saja.

Foto di bawah ini adalah suasana buka tutup jalan di daerah larangan, brebes tepat beberapa kilo sebelum masuk ke tol arah cirebon/jakarta. Jalan yang sedang di cor dan diperbaiki mengharuskan kendaraan yang lewat untuk gantian.

image

Tapi ada hal yang aneh di sini yaitu kondisi jalan sepanjang dari daerah prupuk – songgom – ketanggungan – larangan sampai ke tol seolah tak ada habisnya diperbaiki. Terus sepanjang waktu ada saja ruas jalan yang harus bergantian jalan. Dari tahun 2012 saya pertama lewat sana juga sudah seperti itu.

Seolah dilama-lamain oleh para pemuda yang nyari receh dari jasa buka tutup jalan. Semakin lama proses pengerjaan jalan, semakin banyak uang yang akan di dapat. Semakin banyak uang yang di dapat akan semakin happy.

Kalau ada perbaikan jalan, ada kondisi jalanan harus bergantian. Dari sana munculah kondisi kendaraan harus antri dan bisa panjang antrianya. Antrian kendaraan ini semakin menguatkan bahwa jasa buka tutup jalan harus dibayar dengan receh, sekarang minimal 500 rupiah.

Jika kita ngasih lebih dari itu mereka akan ngucapin terimakasih lebih dari sekali. Kurang dari 500 akan ngomel-ngomel sambil berlalu. Jika kita nggak ngasih, kita yang akan khawatir kalau kendaraan sampai dibaret.

Berapa uang yang bisa didapatkan dalam sehari ? Jauh di atas umr

Jika permobil 500, rata-rata per 15 menit ada 10 kendaraan, maka dalam satu jam dapet 40 kendaraan. Maka dalam satu hari bisa dapet 960 kendaraan. Dikurangi jam sepi malam anggap saja 750 kendaraan sehari. Maka dalam satu hari bisa dapet 375.000, maka kalau sebulan sudah dapet 11.250.000 dan wow besar jauh melebihi umr setempat.

Itu akan dibagi sesuai dengan orang dalam satu tim biasanya 3 sampai 4 orang. Walau receh itu tetep duit. Makannya misal dibagi 4 orang maka dalam sebulan bisa dapet per orangnya 2.750.000 bersih. Lainnya buat beli rokok dan minum bareng. Sangat menggiurkan kan ?

Apakah selalu dapet segitu ?

Khusus di daerah yang aku sebutkan itu yaitu pejagan – larangan – ketanggunag – songgom – prupuk itu setauku ada saja ruas jalan yang di perbaiki. Dan selalu ada tim pak ogah di sana. Bahkan sampai hari ini (november 2015) masih berlangsung.

Bagi warga sekitar situ tinggal bikin kesepakatan saja siapa yang akan jadi pak ogah. Tetapi giliran seperti itu jarang terjadi. Biasanya yang seperti ini akan dipegang oleh para jagoan kampung di situ.

Sebenarnya mereka itu bermanfaat atau malah mengganggu ?

Kalau aku menilai impas dengan kondisinya bahkan lebih terasa negatifnya. Manfaatnya hanya satu yaitu mengatur jalan yang harus bergantian dengan buka tutup jalan. Mereka rela berpanas-panas dan berdebu untuk itu.

Yang memberatkan adalah kita harus mengeluarkan uang terhadap proses itu. Sudah seharusnya rakyat yang ditarik pajak oleh pemerintah untuk pembangunan itu sudah cukup itu saja, masa masih dibebani biaya proses pembangunan lagi.

Yang memberatkan lainnya adalah kondisi mereka yang preman sekali. Seringnya tatoan, tampang pemabuk dan sok sangar. Menimbulkan kecemasan sendiri mereka itu jika tidak dikasih akan berbuat jahat atau paling ringan mencaci maki. Perasan semacam ini tak terhitaung nilainya.

Bagaimana sikap terbaik terhadap pak ogah jalanan ?

Selama ini aku harus ngumpulin receh dan menyiapkannya ketika akan perjalanan bawa kendaraan. Rasa tenang ketika ad stok receh karena keberadaan mereka tidak bisa diprediksi dimana dan kapan. Pernah jalur songgom prupuk itu ada 5 ruas jalan yang diperbaiki dan harus 5 kali gantian jalan, yang artinya harus mengeluarkan 500 x 5. Kalau nggak ada stok bisa khawatir dobel-dobel.

Bukan masalah takut berantem sama mereka, tapi sebuah perbuatan sia-sia ribut dengan orang-orang jalanan seperti ini. Menang nggak dapet apa-apa, kalah rugi besar. Mending ngalah saja selagi bisa. Dan keberadaan mereka lebih baik daripada mereka mencari uang dengan cara yang merugikan orang secara langsung. Itu saja

image

Iklan

3 pemikiran pada “Pak ogah Tukang buka tutup jalan di sepanjang jalan pejagan – songgom – prupuk

  1. KArakter Pak Ogah memang identik dg kemalasan, atau ibarat pepatah ada uang ada barang/berbuat, namun sang tokoh/orang di baliknya adl orang yang sangat peduli dg anak-anak n tergabung dg groupnya Pak Raden/alm. Drs. Suyadi, sang pemerhati anak2

  2. kalau di jalan yang saya lewati sekarang ada yang jagain pintu kereta api yang nggak ada petugasnya. kalau motor seh lewat aja. mobil juga nggak selalu ngasih

    • Wah tambah bikin ribet aja tuh mas, sudah susah nyupir di perlintasan rel yang biasanya malah rame, plus nyari receh, buka jendela dan ngasih sambil fokus nyupir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s