Begini rasanya kondangan di pernikahan mantan tunangan !


Cieeeee… melow dikit ah… mengenang masa yang lalu… sebuah momen tak bisa ku lupakan, ketika bersalaman dengan sahabat karib yang menikahi tunanganku, sedang dia sedang jejer dalam satu pelaminan.

Saya,
Seorang pemuda desa di pedalaman tapanuli selatan yang hidup apa adanya, suka saya bilang suka, nggak suka saya labrak sampai habis sampai saya di cap sebagai berandalan baik hati. Hidup sesuka saya, asal jangan diganggu saya akan berteman dan membela. Sekali saya diusik habis semuanya.

Mungkin itulah sekilas seorang pemuda pelosok seperti saya ini, hampir menjadi pengayom kampung ketika ada yang mengganggu, pokoknya harga diri itu harga mati. Mohon maaf atas pabrik kayu yang saya bakar, impas dengan kelakuanmu merusak kebun saya.

Sahabatku,
Bahagia itu memiliki sahabat dan teman sedari kecil yang sama-sama besar di desa. Walau usia terpaut 3 tahun lebih tua, aku seperti merasa seumuran. Berangkat sekolah bareng, bermain bareng, ngarit bareng, minggat bareng, berkelahi dan lainnya. Kami berpisah karena aku merantau ke kota medan mencari cara hidup yang lain. Sementara dia tetap mengurus ladang dan kebun seperti orang tuanya.

Tunanganku,
Seorang tetangga desa, sudah kenal dari kecil, tapi entah mengapa pada akhirnya kami merasa cocok oleh pertemuan di sebuan kondangan. Orang tuanya bahkan yang memintaku untuk menjaganya, bukan sekedar menjaga tapi juga sampai menjadi istri saya. Sampai sebuah janji setia ketika aku melamarnya untuk kami menuju hari pernikahan.

Minggu, 12 maret 2003

Demi membahagiakan orang tua, untuk bisa mengadakan pesta pernikahan yang meriah, saya pamit ke orang tua dan tunangan saya untuk merantau ke kota medan. Aku pamit untuk mencari bekal di hari pernikahan.

Berat rasa dan air mata kekasih hatiku mengiringi langkahku di terminal tapsel, janji setia untuk menunggu beberapa bulan untuk hari yang bahagia. Diiringi salam dan jabat tangan calon mertuaku serta jabat tangan erat sekali, kubawa dan kuingat setiap hari di perantauan.

Rasa rindu dan gelisah mewarnai haei-hariku, akan kenangan sebuah senyum seorang gadis, duduk di pematang sawah tempat kami menghabiskan waktu sore di perbatasan desa. Sebuah lambaian tangan nan indah saat senja diiringi suara tongeret di balik jaln desa yang langitnya jingga saat musim kemarau.

Sebuah sapu tangan warna biru, sebagai kenangan dan pengingat maka itulah semangat hidupku, mengais rejeki dengan berjualan makanan di se uh sudut kota polonia. Larisnya toko kecil, menambah rasa untuk segera pulang meminang gadis bersahaja di seberang desa itu.

Jumat, 23 desember 2003…

Aku pulang, membawa serangkai bunga paling indah aku lihat, demi aku serahkan pada dia yang berambut hitam panjang terurai, yang sering aku membuatku terpesona ingin membelainya. Aku pulang dengan janji yang aku ucapkan.

Hati bahagia sampai depan rumah disambut emak yang sedang menyapu halaman. Seolah tak ada rasa bahagia melihat anaknya sudah berubah penampilan. Jika dulu saya berambut gondrong, celana jeans sobek-sobek di dengkul, merokok, rambut di semir. Hari ini saya sudah berubah, rapi, rambut pendek, baju koko, bahkan pakai peci. Seolah tak percaya anaknya sudah bertaubat, emak menangis haruu sekali.

Kemudian aku berpamitan kepada emak, bahwa sudah siap untuk membawa pulang calon menantu. Kutunjukan rangakaian bunga itu kepada emak. Tapi mengapa ada tangis emak yang tak terbendung, dan membuatku tak mengerti.

Hanya dengan satu kata, “yang sabar yah nak, jangan marah dan mengamuk” emak menyerahkau selipar kertas merah dan itu adalah undangan pernikahan. Aku buka dan tak percaya pada tulisannya, tertera di sana nama sahabatku dan nama tunanganku. Iyaa 2 hari lagi tanggal pernikahannya…

Masih tak percaya aku menanyakan pada emak bahwa itu bukan nama tunanganku, tapi dengan dipeluknya aku, emak sambil membelai kepalaku agar bersabar. Dan seperti kehilangan kesadaran, saya hanya tertegun masih tak percaya dan kehilangan kata-kata

Rasanya dunia ini sempit sekali, bunga indah itu seperti layu ketika aku lempar jauh-jauh menabrak kaca rumah dan terurai berantakan. Hanya terdengar ucapan sabr dan jangan ngamuk dari emak. Dan sayapun merasakan hari-hari menjadi mulut terkunci rapat menahan rasa marah, kecewa, sakit hati, ingin membunuh, iba, sahabat, senyum indah… semua jadi satu.

Minggu pagi, 25 desember 2003

Tanpa makan, tanpa minum sejak hari jumat, hari ini saya tuluskan hati untuk datang memberi ucapan selamat kepada sahabat karibku, kepada tunanganku, semoga hari ini aku tegar dan bisa mengucapkan kata selamat. Kusadarkan diri, bahwa dia bukan jodohku, bahwa gadis cantik berwajah putih itu bukan jodohku. Bahwa tidak pernah terjadi sore-sore yang jingga diperbatasan desa musim kemarau.

Ku start motor butut honda 800 milik ayahku, ku bawa sepucuk surat ucapan selamat, dan seikat uang di dalamnya beseeta sebaris doa sebagai ucapan terbaik.

Gemetar tangan ini memasuki jalan desa dengan gapura janur kuning orang jawa di simpang tiga. Gemetar hati ini mendengar alunan musik orang berpesta. Dan gemetar kaki ini menginjak rem ketika sampai di parkiran, dan robohlah motor itu karena tak kuasa aku menopang nya.

Ditengah ramainya orang di pesta itu, beberapa orang tak ada yang berani mendekatiku dengan mataku yang memerah, bukan karena mah tapi menahan air mata. Dan aku segera ingat kata-kata emakku agar jangan mengamuk di sana.

Ku langkahkan kaki menuju pelaminan, ku lihat seorang gadis yang amat cantik memaki baju adat, dan itulah pertama kali aku lihat setelah berbulan-bulan yang lalu dia menangis melepas kepergianku, kini mata itu sedang berbinar menerima salam jabat tangan para tamu.

10 meter langkahku ke pelaminan itu, mendadak orang-orang mulai diam, semakin dekat aku ke sana, makin hening suasana. Aku terhenti menatap sekitar, dan barulah pengantin itu sadar kalau aku yang datang. Suasana menjadi tegang sekali.

Musik organ tunggal dan penyanyinya yang sebelum ya melantunkan lagupun ikut berhenti. Seorang wanita yang sedang memakai baju pengantin tanpa aku sadari telah bersimpuh di hadapanku, sebuah pemandangan yang dramatis sekali, menangis terisak sejadi-jadinya. Semua orang diam, semua mata menuju kepadaku dan tunanganku yang sekarang sedang menangis bersimpuh.

Entah darimana pikiranku, gemetar tanganku meraih tangannya, tak kuasa kakiku melangkah menuntunnya mengantarkan ke sahabatku yang hanya tertunduk menghadap ke bawah tanpa berani menatapku.

Tanpa aku sempat mengucapkan kata-kata, suara tangis tunanganku bertambah dengan suara maaf yang keluar dari mulutnya. Sebuah permintaan maaf yang dindengar semua orang, yang membuatku juga menangis, membuat seorang ibu yang dulu adalah calon mertuaku. Entah apa yang terjadi dan aku harus bagaimana menerima permintaan maaf itu.

Ingin kundengar dari suaranya mengapa bisa terjadi semua ini, ingin aku mendengarkan suaranya walau terakhir kali, tapi aku tak sanggup untuk mendengarnya. Dan segera aku balik badan melepaskan suara itu. Suara yang bagiku masih sangat merdu, tetapi kini tak bisa aku miliki.

Tanpa berkata apapun aku sambil manahan tangis, pergi dan berjalan tanpa ingin ku lihat lagi mereka. Tanpa ku pedulikan lagi panggilan histeris tunanganku memanggil namaku… ku start motorku tapi sepertinya juga dia ikut bersedih. Nggak mau di hidupkan sama sekali…

Ku tuntun motor ini sambil masih sesak dada ini, dengan pandangan orang yang seolah tau perasanku, memberiku jalan untuk aku mendorong beban ini.

Kutinggalna suara merdu itu hilang dalam gelap telingaku yang panas. Ku sirnakn rasa sesak dalam dada ini untuk membakar tempat itu. Kundinginkan jiwa ini yang ingin ku bunuh sahabatku. Ku seret rasa kecewa ini bersama motor butut yang mogok ini.

Dan akhirnya aku bersyukur bahwa aku bisa bersabar tanpa brutal seperti masa laluku. Segera aku sesali niat-niat sakit hati ini karena aku bukan yang dulu, aku yang sekarang adalah untuk mencari hidup yang baru.

Bersama Adhi Anshari, warung kopi Simpang Tiga Jalan Polonia Medan

Iklan

30 pemikiran pada “Begini rasanya kondangan di pernikahan mantan tunangan !

  1. Waduh. Baca ini (dan komentar Mbak Tyke dan balasannya) sampai speechless. Pengelolaan emosi yang bagus, Mas. Saya yakin dari menerima undangan itu, terus menetapkan hati buat datang, menampakkan diri dan semuanya itu pasti membuat kepala penuh banget rasanya. Tapi tahu Mas tidak meledak dan menghancurkan acara itu, pengelolaan emosi tingkat tinggi banget nih :hehe.
    Saya penasaran dengan apa yang kejadian sesudahnya–kenapa dia sampai tega berbuat seperti itu? Ingkar janjinya sudah kebangetan sih ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s