​Sunset Jembrana, sebuah puisi


Jembrana yang sore dan sepi
Tentang guratan jingga di bias pantai
Ketika saatnya istirahat
Melepas beban dan lelah

Negeri yang jauh di sebrang sana
Serasa masih jauh langkah ini
Wajahmu tersenyum di ufuk sana
Membuat hati merasakan rindu

Ketika air menyapu jejak kaki
Suaranya menambah senyap
Karena terang semakin menghilang
Bersama pulangnya sang nelayan

Andai kamu di sini
Lalu kugandeng tanganmu
Langkah ini pasti tak lagi lunglai
Agar senja ini tak menjadi gelap
Bersama malam yang semakin pekat

Sungguh hati menjerit sepi di jembrana
Keramaiannya tak mengobati sepiku
Dengan gelapnya yang semakin
Cahaya bintang yang menusuk kalbu

Aku rindu dan aku ingin
Dirimu yang di sana
Untuk aku bawa
Menemani perjalanan malam ni
Agar tak lagi sepi
Untuk berbagi cerita
Dan kugandeng tanganmu
Dalam bersatunya jemari
Dan kucium kepalamu

Wahai wanitaku !

Iklan

2 pemikiran pada “​Sunset Jembrana, sebuah puisi

  1. 🙂 sweet sekali puisinya. jadi kebayang indahnya berjalan dengan pasangan di tepi pantai.:D
    semoga rindunya segera terobati, sayang sekali kalau pantai dinikmati seorang diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s